OKU Selatan – Kopitv.id – ” Suasana Desa Serakat Jaya belakangan ini seperti sinetron: penuh plot twist, banyak adegan tanya-tanya, tapi tidak ada episode klarifikasi dari pemeran utamanya—yakni Kepala Desa.
Sejumlah warga menyampaikan keluhan dengan nada getir namun kocak, mencoba menertawakan nasib meski hati terasa “digesek amplas”. Mereka mempertanyakan berbagai program yang dinilai tak transparan, mulai dari pembangunan sumur bor, program ketahanan pangan, hingga BLT yang tak kunjung dibagikan.
Sumur Bor: Warga Butuh Air, yang Dapat Malah Balai Desa dan Kebun, Warga Dusun 1 Tengah mengaku kebingungan. Mereka butuh air bersih, tapi sumur bor malah muncul di tempat-tempat yang tidak mereka duga.
“Yang kebagian itu Balai Desa sama… kebon pribadi Pak Kades,” kata seorang warga sambil tersenyum pahit.
Katanya, “Kami ini bukan iri, cuma heran. Apa air di rumah warga dianggap sudah upgrade ke versi premium?” Warga menyebut pembangunan tidak melalui musyawarah dan terasa seperti tebang pilih.
Ketahanan Pangan: Ada atau Tidak Ada, Itu Pertanyaannya ” Program ketahanan pangan tahun 2024–2025 juga bikin warga geleng-geleng kepala. Informasi kegiatan? Nihil. Publikasi anggaran? Tidak pernah terdengar.
“Ketahanan pangan itu hidup atau cuma rumor? Kami tidak pernah lihat,” ujar warga lain. Bahkan bidan desa pun mengaku kaget ketika ditanya soal anggaran kesehatan dan stunting senilai Rp 10,8 juta.
“Saya tidak tahu apa-apa soal bantuan desa. Saya paling hanya hadir kalau ada acara. Selebihnya dikelola langsung oleh Pak Kades dan istrinya,” ungkap bidan desa.
BLT Tahap 2 Tahun 2025: Cair, Tapi Tidak Sampai ke Warga ,Bagian ini yang menurut warga paling menusuk hati. BLT disebut sudah cair dari pemerintah pusat tapi belum sampai ke tangan masyarakat.
“Kalau memang sudah cair, kenapa kami belum terima? Apa harus kami jemput sendiri ke pusat?” keluh warga sambil tertawa getir. Kontrol sosial media pun masih mencari bukti bukti otentik penyaluran tahap 2 tersebut.,Kantor Desa: Mirip Rumah Kosong di Film Horor
Saat awak media datang, kondisi kantor desa terlihat memprihatinkan,bau tidak sedap, plafon pecah dan jebol, sepi seperti tidak berpenghuni pelayanan publik seperti mode offline
Warga mengatakan Kepala Desa sulit ditemui, baik di rumah maupun di kantor. Saat dikonfirmasi, istri kepala desa menyampaikan bahwa sang suami sedang keluar kota dan sulit dihubungi. Seperti karakter sinetron yang muncul hanya di episode tertentu.
Harapan Warga: Bukan Mau Ribut, Hanya Mau Jelas , Warga Desa Serakat Jaya menegaskan bahwa mereka bukan hendak bermusuhan. Mereka hanya ingin desa berjalan normal, transparan, dan sesuai aturan.
Mereka meminta Pemerintah Kabupaten Oku Selatan, APH, Inspektorat, Dinas PMD, hingga pihak terkait lainnya turun tangan melakukan pemeriksaan. Yang mereka minta sederhana: transparansi penggunaan anggaran, pembangunan sesuai kebutuhan, BLT dibagikan tepat waktu, dan pelayanan kepala desa yang aktif, bukan “mode hilang”.
“Bukan kami tak sabar,” ujar warga. “Tapi kalau begini terus, kami jadi merasa tinggal di desa versi trial, bukan full version.”
Awaludin
Red :
![]()





